CEO 1 Juta Dollar

Sebelum dipercaya menduduki kursi CEO Lenovo, selama lima tahun ia sempat mengabdi di Dell. Salah satu alasannya menerima pinangan Lenovo, karena ia tertarik oleh bayaran yang ditawarkan, yakni US$ 1 juta dalam setahun.  Alamak….:-)
BOLEH jadi saat ini Lenovo tergolong produsen komputer dengan kinerja paling kinclong. Lihat saja pertumbuhan bisnisnya, bahkan paling tinggi di dunia. Menurut laporan The Wall Street Journal yang dipublikasikan pada awal Agustus lalu, peningkatan keuntungan bersihnya sampai kuartal kedua tahun ini lebih dari 1.200%. Selama kuartal I saja, keuntungan yang diraih industri asal Cina itu sebesar US$ 5,2 juta. Tiga bulan setelah itu, menggelembung menjadi US$ 66,8 juta.
Kinerja yang begitu mengesankan itu, sulit dimungkiri, berkat jerih payah divisi marketingnya. Selama periode itu, mereka berhasil mendongkrak penjualan hingga mencapai 22%. Skala ini yang patut digolongkan sangat luar biasa—itu jika dibandingkan dengan pertumbuhan bisnis industri komputer dunia selama kuartal II yang rata-rata ”hanya” mencapai 13%.
Tak pelak, hal itu otomatis mengangkat posisi Lenovo Group Limited menjadi industri komputer tiga besar di dunia—kendati reputasinya masih di bawah Dell dan Hewlett-Packard. Dengan omzet sebesar US$ 13,2 miliar, kini Lenovo bisa dipastikan telah menguasai 7,3% pangsa pasar dunia.
Prestasi yang begitu mengagumkan itu, di antaranya karena kepiawaian William J. Amelio sebagai Chief Executive Officer (CEO) Lenovo Group Limited. Untuk diketahui, sebelum 2005, perusahaan ini hanya dikenal sebagai industri komputer lokal dengan brand Lianxiang yang dimiliki oleh Legend Group Ltd. dan New Technology Developer Incorporated, tak lain BUMN milik Pemerintah Cina. Buat ukuran di dalam negerinya, perusahaan yang berdiri sejak 1984 itu memang tergolong produsen komputer terbesar.
Dan tonggak sejarah itu terjadi pada 2004. Ketika itu, Lianxiang berhasil mengakuisisi divisi personal computer (PC) IBM senilai US$ 12 miliar. Tak pelak, peristiwa ini sempat menyentak dunia. Bagaimana tidak. Kala itu, tak seorang pun yang menyangka, sebuah perusahaan yang sebelumnya dikenal hanya mampu memproduksi barang-barang murah berkualitas rendah, tiba-tiba bisa memperoleh kepercayaan dari sebuah industri raksasa sekaliber IBM.
Yang jelas, sejak itu, Lianxiang pun berganti rupa menjadi Lenovo. Dan seiring dengan itu, tepatnya sejak 20 Desember 2004, William J. Amelio pun mulai menempati posnya sebagai orang nomor satu di perusahaan ini.
Belakangan baru terungkap, mengapa IBM tak ragu-ragu menyerahkan salah satu aset usahanya tersebut kepada perusahaan asal Negeri Tirai Bambu itu. Salah satu pertimbangannya lantaran manajemen Lianxiang sanggup menanggung seluruh utang yang selama ini menjadi beban IBM. Belitan utang itu lantaran kinerja industri asal Amerika ini terus memburuk. Sebelum diambil alih oleh Lianxiang, divisi personal computer IBM saja tengah merugi hingga sebesar US$ 500 juta.

ANDAL MEMPERTAHANKAN HARGA MURAH
Di sisi lain, langkah akuisisi itu bagi Pemerintah Cina bisa dibilang sangat menguntungkan. Paling tidak, dengan mendompleng nama besar IBM, produk-produk komputer mereka berpeluang merambah pasar dunia. Peluangnya, selain menguasai mayoritas saham, berkat akuisisi itu mereka juga berhak atas seluruh jaringan pemasaran IBM di seluruh dunia. Sebagai informasi, hingga 31 Mei lalu, Pemerintah Cina melalui Legend Group Ltd. menguasai 42,4% saham di Lenovo, sementara IBM hanya 7,9%.
Persoalannya sekarang, bagaimana juntrungannya Amelio bisa dipercaya mengemban tugas sebagai CEO Lenovo? Jika melihat referensinya, siapa pun akan memakluminya. Sosok eksekutif yang satu ini, tak lain, orang kepercayaan para pemegang saham IBM. Dan pengabdiannya di industri ini tergolong panjang. Di antaranya, ia sempat berkiprah di divisi PC IBM selama 18 tahun (1979-1997).
Dan nyatanya, kepiawaiannya tak perlu diragukan lagi. Amelio hanya membutuhkan waktu tak lebih dari tiga tahun untuk mengangkat Lenovo menjadi salah satu industri komputer terbesar di dunia. Kendati begitu, yang mengherankan, tak sedikit kalangan yang menilai keberhasilannya itu sebagai keberuntungan semata. Dalilnya, karena Lenovo dibangun atas dukungan dua industri besar.
Di atas kertas, bisa jadi, penilaian itu ada benarnya. Namun, jika melihat realitasnya, mengendalikan sebuah perusahaan besar layaknya Lenovo, bukanlah perkara mudah. Bahkan, bisa dibilang sangat kompleks. Apalagi industri ini bergerak di sektor dengan tingkat persaingan amat tinggi. Fakta terbaru yang terjadi pada pekan lalu, sangat sulit memungkiri pandangan tersebut. Kala itu Lenovo kalah bersaing dengan Acer dalam perebutan Gateway Inc., yakni produsen komputer asal Amerika. Acer, perusahaan asal Taiwan, diberitakan telah berhasil membeli Gateway seharga US$ 710 juta. Padahal, sudah sejak lama Amelio juga berambisi membeli perusahaan itu.
Tapi, jika bicara soal pemasaran, bisa jadi, Amelio memang jagoannya. Di antaranya, ia tergolong andal menentukan harga yang kompetitif. Buktinya, sampai saat ini, produk PC Lenovo masih kesohor yang termurah, harga per unitnya rata-rata hanya US$ 199, bahkan jauh lebih rendah ketimbang harga produk sejenis buatan industri pesaingnya.
Strateginya untuk itu, tiada jalan lain selain meningkatkan efisiensi. Dalam periode April hingga Juni lalu, ia berhasil menekan biaya operasional hingga US$ 2 miliar ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya. Caranya, sederhana saja. Selain ngotot menanamkan sikap disiplin di kalangan bawahannya, ia juga berusaha keras agar seluruh bahan baku diperoleh dari dalam negeri yang ongkosnya relatif lebih murah ketimbang yang diimpor.
Amelio juga tergolong leader yang jeli memanfaatkan peluang. Misalnya saja di Olimpiade 2008 yang akan digelar di Beijing. Ia tak perlu berpikir panjang lagi berpartisipasi sebagai salah satu sponsor dalam ajang olahraga tingkat dunia itu—yang notabene gaungnya sudah mulai menggema sejak beberapa tahun lalu. Sejak dirintis tahun lalu, ternyata strategi ini terbukti efektif. Berkat strateginya itu, selama semester I tahun ini, tak kurang dari 100 juta unit PC Lenovo berhasil terjual.
Perkembangan teknologi pun tak luput dari perhatiannya. Buktinya, Lenovo telah berhasil memproduksi komputer yang dilengkapi teknologi yang mampu mengenali wajah penggunanya (face recognition). Selain itu, Lenovo juga sudah berhasil memproduksi keyboard antibakteri yang layak digunakan oleh para penderita alergi.
Pria yang kini berumur 47 tahun itu mengawali karirnya di IBM setelah berhasil menyelesaikan pendidikan S1-nya. Ia adalah sarjana kimia dari Universitas Lehigh, Pennsylvania, Amerika. Di perusahaan inilah ia mulai mengenal bisnis komputer. Dan karir puncaknya di industri ini sebagai general manager of operations personal computing division. Sebelum dipercaya menduduki kursi CEO Lenovo, selama lima tahun ia sempat mengabdi di Dell. Salah satu alasannya menerima pinangan Lenovo, karena ia tertarik oleh bayaran yang ditawarkan, yakni US$ 1 juta dalam setahun. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: