Gara-gara Nyandu Ilmu Manajemen

I OWE THIS TO YOU”. Kalimat ini ingin sekali diutarakan Darwin Silalahi pada Gess Laving. Gess adalah salah seorang petinggi British Petroleum (kini sudah berubah menjadi Beyond) Indonesia periode 1987-1990. Bagi Darwin, mantan atasannya itu berkontribusi besar dalam mengubah jalan hidup, termasuk meretas pencapaian karirnya saat ini.
Darwin sekarang adalah Chief Executive Officer (CEO) PT Shell Indonesia. Ia pribumi pertama yang memuncaki jabatan perusahaan yang berkantor pusat di Belanda itu. Bergabung sejak April lalu, Juni ini ia diangkat menggantikan Bob Moran, CEO Shell Indonesia sebelumnya. Sebuah prestasi luar biasa.
Utang budi Darwin di masa lalu tak ada hubungannya dengan materi, apalagi jabatan. Ia hanya merasa Gess telah menemukan potensi lain dalam dirinya. Ya, di BP 20 tahun silam itu, Darwin hanyalah seorang geophysicist. Ia masih staf biasa, sebelum akhirnya dikirim perusahaan melanjutkan studi S2 di University of Houston.
Studi ini menjadi titik balik kehidupannya. Ia yang berlatar belakang fisika, dan berkarir sebagai geofisika, malah diminta belajar manajemen. ”Di situlah kehebatan Gess,” kenangnya. Dan tak sebatas itu. Ia masih ingat benar motivasi Gess agar dirinya tidak takut keluar dari comfort zone-nya (bidang fisika) selama ini.
Mulanya, Darwin menolak. Bukan karena tak tertarik dengan bidang yang akan dipelajari, tapi kemampuan. Ia kurang percaya diri. Betapa tidak, atasannya langsung, Dave Taylor, yang pernah mengenyam pendidikan serupa berakhir kurang memuaskan. Di BP, saat itu, siapa pun tahu Dave adalah karyawan paling berbakat dan potensial.
Gess hanya membesarkan hatinya. ”Kalau kamu tidak berhasil dalam program ini, kamu juga ingat, Dave pernah gagal,” kata Gess, seperti ditirukan Darwin. Momen itu tak akan terlupakan. Yang terus dipikirkannya, bagaimana seorang atasan bisa percaya dengan pemula seperti dirinya, sementara karyawannya yang paling berbakat pernah gagal.
Sejak itu, ia mulai nyandu dengan ilmu manajemen. Nah, bicara soal gaya memimpin, inspirasi tak hanya datang dari Gess. Ia juga mengaku sangat terkesima dengan keberhasilan Robby Djohan. Menurutnya, ketika masih di Bank Niaga, bankir kondang itu sukses mencetak eksekutif berkualitas. ”Saya ingin Shell seperti Bank Niaga. Saya merasakan betul bagaimana hal itu pernah terjadi pada saya ketika masih bekerja di BP,” katanya.
Soal mencetak eksekutif ini, sebenarnya ia cuma bicara tentang obsesi. Pekerjaan utamanya di Shell tetap saja satu: bagaimana menjadikan perusahaan migas multinasional ini jadi yang terbaik di sektor hilir, alias mampu mengalahkan dominasi Pertamina dalam waktu dekat, memang tidak mungkin. Tapi, paling tidak menjadi yang terkuat nomor 2.
Bagi Shell, Indonesia adalah pasar yang strategis. Deregulasi sektor hilir migas membuat pasar BBM dalam negeri makin seksi. Perubahan itu, memungkinkan swasta lain di luar Pertamina bisa berkompetisi secara sehat. ”Ke depan kami juga sedang menjajaki kemungkinan ikut mendistribusikan BBM bersubsidi (premium),” katanya.
Dan nyatanya, Indonesia memang pangsa yang gemuk. ”Masih under pomp. Rasio jumlah pompa bensin tidak sebanding dengan kebutuhan penduduk Indonesia yang sangat padat,” terang Darwin. Di Malaysia, ia menambahkan, kami menjadi nomor dua setelah Petronas. Untuk diketahui, di Malaysia yang penduduknya hanya 20 juta, Shell memiliki 900 SPBU.
Di Indonesia jumlah SPBU itu baru 10 buah. Kesepuluh SPBU itu telah memasarkan produk BBM kelas atas, atau nonsubsidi, seperti RON (research octane number) 92 (sekelas Pertamax) dan RON 95 (sekelas Pertamax Plus). Untuk menggenjot volume, kata Darwin, Shell berencana ikut masuk di kelas Ron 88 (sekelas premium). Tapi, ya itu tadi, mereka masih bersikap wait and see hingga ada kejelasan baru soal aturan main di bisnis hilir. Inilah sisi kritis itu. Agar optimal, Shell tidak bisa tidak mesti mengusahakan country chairman diduduki orang lokal.

TUKANG ENGKOL SPBU
Darwin lahir dan besar di Balige, Sumatra Utara. Ayahnya memiliki 2 istri. ”Ibu dinikahi ketika masih berusia 18 tahun, sementara ayah 65 tahun,” tuturnya. Ia memiliki 7 saudara kandung, dan tiga saudara tiri. Latar kehidupan keluarga besar ini terbilang biasa saja.
Ekonomi keluarga ditopang dari kegiatan SPBU. Jangan membayangkan seperti di kota besar, di Balige, bisnis menjual BBM termasuk skala usaha kecil. ”Saya pernah bekerja di sana sebagai tukang engkol (alat pemutar) mesin SPBU manual,” katanya.
Dan Balige ternyata terlalu sempit untuk aktualisasi diri. Menginjak kelas dua SMU, ia pun merantau ke Jakarta. ”Saya tinggal dengan saudara,” katanya. Di belantara Ibu Kota, kehidupan malah terasa lebih berat. ”Saya biasa tidak punya uang jajan. Kalau haus, saya tinggal pergi ke penjual minuman, minta es batu,” kenang alumni SMA 70 Jakarta ini.
Di tengah impitan ekonomi, nyatanya ia tetap mampu mencetak prestasi. Penggemar pelajaran matematika dan fisika ini lulus dengan amat memuaskan. Ia memperoleh nilai matematika 10. ”Harusnya, angka sempurna itu milik Tuhan,” tutur Darwin, tentang gunjingan para gurunya kala itu.
Ia kemudian diterima di Universitas Indonesia. Di kampus pelat merah ini beban hidupnya tak sedikit pun berkurang. Malah semakin limbung ketika datang kabar dari kampung. ”SPBU milik keluarga harus tutup. Biaya operasional sudah tidak sebanding dengan pendapatan,” ujarnya. Selain biaya kuliah, bebannya kini bertambah: ia juga harus berkontribusi terhadap kelangsungan keluarga besarnya. Tapi, Darwin bukan tipe orang yang mudah putus asa. Untuk meringankan beban, ia bekerja paruh waktu sebagai guru bimbingan belajar dan privat.
Hasilnya memang lumayan. Tapi, itu belum cukup untuk memperbaiki kualitas hidupnya. ”Saya cuma makan tempe dan kuah sop. Kalau Pak Kumis lagi baik, saya suka diberi suwiran daging, untuk perbaikan gizi,” katanya terbahak. Pak Kumis yang diceritakan ini adalah seorang pemilik warung makan di depan UI Salemba.
Roda hidupnya mulai berputar ketika ia lulus kuliah pada 1985. Ia mulai diterima bekerja di British Petroleum Indonesia. Karir profesionalnya mulai menanjak ketika dikirim belajar ke Amerika. Selama studi, ia dititipkan di BP Exploration Houston. Tiga tahun berselang (1994) ia kembali ke Indonesia. Kepulangannya menandai akhir kemesraannya dengan BP.
Keluar dari BP, Darwin bergabung dengan Dharmala Group. Di perusahaan ini ia beberapa kali menjabat sebagai senior executive, hingga mencapai posisi puncak sebagai Direktur Corporate Planning and Development. Pada 1997 ia dibajak Bakrie and Brothers. Di konglomerasi milik keluarga Aburizal Bakrie ini ia didapuk sebagai Group Chief Operating Officer (COO). ”Ini fase yang paling mendebarkan. Ketika itu usia saya baru 36 tahun, terlalu muda dan minim pengalaman,” katanya.
Di Grup Bakrie ia tak lama. Pada 1998 Darwin mengambil keputusan paling dramatis: berkarir di birokrasi. Ia menjadi Direktur Jenderal Kementerian BUMN-RI yang bertanggung jawab melakukan restrukturisasi dan privatisasi 14 BUMN yang bergerak di sektor komunikasi, transportasi, dan utilitas publik. Pada 2000, ia kembali ke swasta. Ia diangkat menjadi CEO Booz Allen Hamilton Indonesia.
Pada April 2007, Darwin bergabung dengan Shell. Tepat 2 bulan kemudian, tukang engkol sebuah SPBU di Balige itu, akhirnya menakhodai Shell Indonesia. Ini menjadi puncak sekaligus akhir dari karirnya di ranah profesional. ”Pensiun dari sini, saya hanya ingin mengajar,” katanya. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: