Flying Squad Tesso Nilo vs Gajah

Taman Nasional Tesso Nilo, Sumatera – Ada “pesta besar” di Kamp Tim Patroli Gajah Flying Squad WWF tanggal 1 Maret 2008 yang lalu. Pesta itu untuk memperingati kelahiran dua anak gajah di sana. Satu ekor anak gajah, Nela, merayakan hari ulang tahunnya yang pertama. Sedangkan teman barunya, yang baru berusia tiga bulan, baru saja menerima upacara pemberian nama. Ia diberi nama Tesso. Sekitar 80 tamu undangan merayakan pesta unik dua gajah kecil tersebut.

Idealnya, upacara pemberian nama yang merupakan tradisi setempat dilakukan sebelum bayi berusiaBayi Tesso dan Bayi Nela. satu bulan, namun bisa juga dilakukan beberapa bulan setelah kelahiran. Nama Tesso diberikan oleh Wakil Gubernur Provinsi Riau, mengambil nama depan taman nasional Tesso Nilo dimana bayi gajah Flying Squad tersebut dilahirkan.

Kedatangan Wakil Gubernur Wan Abu Bakar di Kamp Tim Flying Squad disambut oleh “panitia penyambutan” yang terdiri atas empat gajah dewasa Tim Flying Squad. Tepat di depan pintu gerbang kamp, Ria, ibu dari Tesso, melangkah maju membawa rangkaian bunga yang dikalungkan di leher Wakil Gubernur.

Tim Flying Squad, yang terdiri atas empat gajah dewasa dan delapan pawang, berpatroli di sepanjang daerah yang berbatasan dengan Taman Nasional Tesso Nilo untuk mencegah gajah liar yang masuk kedaerah tersebut menimbulkan konflik dengan penduduk setempat. Tim tersebut juga mengajarkan masyarakat setempat agar menggunakan cara-cara yang aman untuk melindungi tanaman mereka dari serangan gajah liar.

Pemberian Kalung Bunga Kepada Tamu Yang HadirSelain menghormati tradisi, upacara pemberian nama dan perayaan ulang tahun juga mengandung tujuan konservasi. Dalam pidatonya, Kepala Taman Nasional Tesso Nilo menyampaikan kesuksesan Tim Flying Squad dalam mengurangi konflik manusia dan gajah di sekitar taman nasional. Kepala Taman Nasional mengharapkan adanya kolaborasi yang lebih luas untuk mitigasi konflik gajah dengan manusia dan untuk menjaga taman nasional. WWF bekerja mengawasi perluasan taman nasional dari 38.000 hektar menjadi 100.000 hektar untuk memastikan luas habitat yang memadai bagi populasi gajah di Provinsi Riau.

Wakil Gubernur, yang juga duduk sebagai dewan komisaris Tim Penanganan Konflik Manusia dengan Satwa di tingkat provinsi, berjanji untuk melindungi hutan di Provinsi Riau yang berfungsi sebagai habitat gajah. Karena penyusutan habitat di Riau memicu peningkatan konflik manusia dengan gajah, Wakil Gubernur berharap agar tim di tingkat provinsi yang baru dibentuk berhasil mengatasi konflik tersebut, seperti yang telah dilakukan Tim Flying Squad di Tesso Nilo.

Lalu bagaimana gajah-gajah tersebut melangsungkan perayaan tersebut? Dengan kue “brownies”! Jangan kaget dulu, “brownies” untuk gajah ini berbeda dengan brownies yang kita kenal. Brownies khusus ini terbuat dari biji jagung, gula aren, mineral dan gandum yang dimasak menjadi satu adonan. Sesuai tradisi, Wakil Gubernur menandai upacara tersebut dengan memberikan “brownies” kepada Ria, Ibu dari Tesso, sebagai tanda pemberian nama bagi anaknya. Kemudian dilanjutkan kepada Lisa, ibu dari Nella, dalam rangka perayaan ulang tahun anaknya.

Selanjutnya para tamu bergiliran memberi makan keempat gajah dewasa Tim Flying Squad. Selain dua gajah betina, tim tersebut juga beranggotakan dua gajah jantan.

Tesso dan Nella, yang tidak memahami perayaan yang diselenggarakan bagi mereka, terlihat selaluUpacara Pemberian Nama Bayi menempel di sisi ibunya. Tesso dilahirkan tanggal 16 November 2007 dan Nella tanggal 23 Februari 2007. Keduanya berayahkan gajah-gajah liar, sehingga kehamilannya menjadi kejutan manis bagi Tim pawing Flying Squad. Sesekali Nella mulai ikut berpatroli dengan Tim Flying Squad, namun sehari-hari masih sempat bermain-main dan – bertengkar – dengan Tesso.

Wakil Gubernur dan para tamu sangat antusias mendengarkan berbagai cerita tentang kehidupan gajah Flying Squad.

WWF pertama kali memperkenalkan Tim Patroli Gajah Flying Squad pertama di Provinsi Riau pada 2004, tepatnya di desa Lubuk Kembang Bunga di dekat Taman Nasional Tesso Nilo. Tim tersebut dibentuk sebagai solusi jangka pendek untuk mengurangi konflik manusia dengan gajah di desa tersebut dan untuk menghasilkan dukungan bagi konservasi gajah di kalangan masyarakat, yang lokasinya sulit dicapai.

Pemberian Roti Brownies Oleh Wakil GubernurKonsep Flying Squad merupakan tradisi yang telah dikenal lama di India dan beberapa tempat lainnya, namun belum pernah digunakan di Indonesia sebelumnya. WWF merekrut pawang dan gajah dari kamp gajah yang dikelola pemerintah. Kedelapan pawang dan empat gajah tersebut kemudian menjalani pelatihan intensif untuk menciptakan kedekatan di antara mereka dan menjadi tim yang efektif dalam menghalau gajah-gajah liar. Pengimplementasian tim patroli gajah tersebut terbukti sangat efektif dalam mengurangi kerugian yang dialami masyarakat setempat di sekitar Tesso Nilo. Sejak beroperasi pada bulan April 2004, Tim Flying Squad Tesso Nilo berhasil mengurangi kerugian ekonomi yang dialami masyarakat setempat yang timbul akibat serangan gajah

Karena keberhasilannya dalam mengurangi kerugian akibat konflik, sejumlah perusahaan yang beroperasi di sekitar daerah tersebut mulai membentuk Tim Flying Squad sendiri untuk melindungi tanaman mereka dari serangan gajah liar.

One Response

  1. tessoooo…
    riaaaa..
    kgen ne..🙂
    smoga jja artkel ak cpet kLar n dtrima ya..
    jdi bsa ksana Lge Lburan bsok..😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: